Resign kerja demi memenuhi permintaan suami..
Yappp walaupun kejadiannya sudah lewat bertahun2 yang lalu, hingga hari ini saya masih sulit move on dari status saya sebagai wanita karir dulu.
Sebetulnya karir saya pun tidak bagus2 amat. Saya hanyalah seorang staf senior di perusahaan menengah. Gaji terakhir saya sebelum resign pun hanya di kisaran 9 juta. Tidak terlalu besar tapi menurut saya sangat cukup untuk sehari2. Kenapa saya sangat sulit melupakan karir saya yang biasa2 saja? Karena hanya saat itulah saya merasa punya " self value", baik di mata orang lain maupun di mata diri saya sendiri. Saya sangat mencintai pekerjaan saya, teman2 kantor saya, suasana kantor saya, meeting2 yang panjang, sesi stock opname yang melelahkan namun juga menyenangkan, lembur saat closing…. semuanya…
Sebelum resign, saya sudah berusaha nego dengan suami agar tetap diizinkan bekerja. Karena sebelum menikah pun dia pernah bilang lebih suka dengan wanita yang punya penghasilan sendiri. Sayangnya semua berubah setelah kami menikah. Tiba2 suami saya ngotot menyuruh saya resign. Entah apa alasannya. Setahun lebih kami berdebat soal itu, bahkan sampai ke titik dia memberikan silent treatment berhari2 pada saya. Akhirnya saya mengalah dan resign. Dan mulai hari itu, self esteem saya pun runtuh.
Karena saya sudah tidak punya penghasilan lagi, saya jadi sering direndahkan orang lain. Dianggap benalu dan tidak bisa apa2. Bahkan suami saya pun begitu. Padahal awalnya dia sendiri yang menyuruh saya resign, mengabaikan bagaimana manager saya dulu berkali2 memohon untuk mempertimbangkan kembali keputusan saya resign.
Saya akui saya memang tidak suka dan mungkin kurang telaten jadi ibu rumah tangga. Suami saya sangat tidak puas. Dia selalu menganggap saya tidak becus, tidak cukup bersih, tidak cukup rapi, dll. Setiap hari hanya kritikan yang keluar dari mulutnya. Bahkan hal sepele seperti lupa membuang plastik bekas sedotan pun akan dibahas berkali2. Seolah2 saya berdosa besar hanya karena tidak membuang plastik di tong sampah. Sampai akhirnya keluar kata2 karena saya tidak kerja, sudah sewajarnya saya 100% mendedikasikan diri mengurus rumah dengan sempurna. Saya tidak boleh terlihat malas sedikitpun. Jika terlihat tidur siang sebentar saja, saya akan disindir habis2an. katanya enak banget saya bisa tidur2an sementara suami saya kerja. Bahkan saat saya sakitpun semuanya harus tetap sempurna.
Karena tidak tahan, saya mencoba membuka warung dengan menggunakan sisa tabungan saya selama kerja dulu. Salahnya, saya membuka warung di rumah orang tua saya karena lokasinya strategis. Awalnya memang ibu saya yang menyuruh saya buka di sana karena modal yang saya miliki terbatas. Daripada digunakan untuk mengontrak ruko yang jumlahnya bisa puluhan juta, lebih baik coba dulu di rumah, kata mereka.
Saya terlalu naif mengira orangtua saya akan mendukung saya. Nyatanya setelah warung saya mulai ramai dan omzet meningkat, kakak dan orangtua saya mulai ikut campur mengendalikan warung saya. Bahkan sekarang bisa dibilang 90% warung saya sudah bukan milik saya lagi. Kini stok2 warung pun sudah bukan saya yang mengatur. Saya tersisihkan secara halus di warung saya sendiri yang saya bangun dari nol. Modal yang sudah saya setorkan susah diambil lagi karena keuangan sudah dipegang oleh papa saya. Jika saya menolak, mereka akan mengungkit bahwa warungnya ada di rumah mereka jadi milik bersama. Tapi orangtua saya tetap memberi saya bagian dari keuntungan meski sedikit, hanya cukup untuk sehari2.
Sejak saya punya warung, suami saya berhenti memberikan saya nafkah. Padahal pengeluaran rumah tangga sehari2 saya yang membayar. Saya menceritakan hal ini pada suami, tapi bukannya solusi, malah makian yang saya dapat. Suami tadinya sangat berharap bisa ikut resign jika usaha warung saya maju. Beda dengan saat saya kerja kantoran, suami memang mendukung saya buka warung karena dia juga merasa punya hak di sana.
Saya semakin merasa terbuang. Ke sana salah, ke sini pun salah. Sekali lagi, saya merasa tidak berharga. Saya ingin bekerja lagi tapi tidak boleh, ingin buka usaha lagi tapi sekarang suami sudah kehilangan kepercayaan pada saya. Sekarang saya sedang mencari cara untuk mendapat penghasilan tambahan lewat internet, mulai dari daftar survey, jualan dropship, cari2 kerjaan freelance, dll untuk mengumpulkan modal usaha lagi. Sayangnya hingga saat ini belum ada yang benar2 bisa menghasilkan uang. Satu2nya penghasilan saya sekarang adalah hasil bagi keuntungan warung saya yang tidak seberapa. Semoga saya segera menemukan jalan keluarnya.