Mengapa Indonesia disebut sebagai Fatherless Nation?
Karena akar budaya patriarki yang terlalu kuat, sehingga muncul fenomena fatherless children.
Di keluarga besar saya, ini adalah big fat no. Patriarki hanya terbatas pada pengambilan keputusan akhir dan hak veto pria. Tidak lebih.
Seringkali di Indonesia, anak itu cenderung menyelesaikan masalah dengan emosi. Bukan dengan pendekatan logis. Pendekatan mereka sungguh aneh. Misalkan penggal memenggal yang beberapa bulan lalu terjadi di kota tetangga saya, hanya karena selingkuh.
jatim-inews-id/berita/pria-di-ma...
Ini terjadi secara turun temurun juga.
Misalkan saya, dari Generasi Z (lahir 2000 - sekarang), biasanya punya orangtua dari Generasi X (lahir 1965 - 1980). Nah, umumnya populasi Generasi X di Indonesia juga menurut saya sudah fatherless, atau kekurangan figur ayah. Sehingga banyak juga Generasi X ketika punya anak-anak di angkatan Generasi Z, problem solving yang mereka punya meniru ayah-ayah mereka. Intinya emosional.
Singkatnya, peran Ibu terlalu besar dalam pendidikan anak, sampai melupakan peran Ayah. Ujung-ujungnya di Indonesia, meski sebetulnya terlihat kuat dan gagah, menurut saya pria Indonesia ini terlalu emosional seperti emak-emak.
www-cnnindonesia-com/nasional/20...
Lihat deh, coba perhatikan. Konsep maskulinitas pria di Indonesia itu sedikit berbeda lho dengan konsep maskulinitas di barat. Maskulin di Indonesia itu berarti senggol bacok, berani maju dulu nyawa urusan belakangan, berani memukul, berani protes marah dan bertengkar kalau ada masalah. Kecenderungan yang saya lihat kalau di barat, maskulin itu memang di satu sisi mampu mempertahankan diri, tapi juga berkepala dingin dan logis dalam menyelesaikan masalah.
Pria maskulin, tapi kalau menyelesaikan masalah pakai kepala panas, tidak akan dianggap maskulin, tapi dianggap anak-anak.
You're like a baby!
Intinya, peran ayah dalam perkembangan anak itu penting. Ibu bisa mengisi dari moral, dan emosional. Tapi pengambilan keputusan logis tetap ada di ayah.
Wer rastet, der rostet