BENCI DAN EMOSI KU
Aku hanya wanita biasa. Tidak cantik, norak, malas, bosenan, gampang emosi, pendiam, dan cenderung tidak peduli dengan diri sendiri.
Hidup ku sebenarnya normal. Orangtua ku sangat merangkul ku dalam hal apapun. Jika aku benar, aku di nasehatin, jika aku salah, tetap disalahkan, tapi tetap, nasehat, sopan santun, terus di pupuk dalam diri ku sebagai anak.
Hidup mulai berantakan setelah aku masuk usia 9 tahun.
Di usia 9 tahun, aku masih SD kelas 3.
Di hari pertama belajar sebagai murid kelas 3, aku di bully beberapa anak di kelas. Mereka meminta ku mengerjakan tugas matematika. Aku menolak. Mereka marah, dan mengancam ku. Sepulang sekolah, mereka menghadang ku, menarik tas ku sampai putus, mengoyak seragam ku, mengacak-acak rambut ku, dan menamparku.
Aku melaporkan kejadian itu ke wali kelas kami. Tapi dia bilang, aku cengeng.
Sesampainya di rumah, aku melaporkan kejadian itu ke orangtua ku.
Keesokkan paginya, bapak datang menghadap kepala sekolah, membahas masalah kemarin.
Mungkin guru dan murid² itu, dapat teguran dari kepala sekolah. Karena di setelah itu, mereka tidak lagi mengganggu ku.
Kelas 4 SD.
di kelas 4, ada 20'an murid. Dari 20 murid, hanya 1 murid laki-laki, yg mau berteman dengan ku.
Aku di bully oleh belasan murid, cewek cowok. Usia mereka di atas ku, belasan tahun.
Awalnya mereka mengambil buku ku. Lalu di sobek, dan di lempar, di oper ke anak-anak lain nya. Aku meminta buku itu dengan baik. Tapi mereka tidak memberikan nya. Mereka malah menertawakan ku, dan mengejek ku
"Mau buku ini ? Ambil kalau bisa. Hahhahaa"
Jadinya aku marah. Aku menyerang seorang murid laki², mencakar wajah nya, dan menarik baju nya, sampai kancing nya lepas.
Mereka marah karena aku berani melawan. Jadinya buku ku di injak-injak, sampai tak tersisa selembar pun yg bersih.
Aku nangis, dan menundukkan kepala.
Mereka mengacak-acak rambut, sambil berkata "huuuu dasar miskin"
Guru masuk kelas, dia adalah wali kelas ku di kelas 3 kemarin.
Dia melihat ku menangis, dia melihat rambut ku yg acak-acakan.
Dia bertanya "ada apa ini ? Kenapa kamu nangis ?".
Aku menjawab : mereka merobek buku ku pak. Buku ku kotor semua.
Mereka mengelak, dan mengatakan " enggak pak, dia yg mulai duluan. Bapak liat nih, wajah ku sampai luka di cakarnya, seragam ku juga hampir koyak"
Bukannya menenangkan, atau melakukan sesuatu sebagai guru, dia malah melanjutkan mengajar, tanpa mempedulikan ku.
Dia memberi kamk tugas matematika, yaitu penjumlahan dan perkalian.
Aku selesai lebih dulu dari murid lainnya.
Guru : kamu kenapa gak nulis ?
Aku : sudah selesai pak
Guru : kumpulkan.
Aku maju ke depan, menyerahkan buku tugas ku yg kotor itu.
Di susul murid² lainnya, mereka mengumpulkan buku tugas untuk di nilai.
Kemudian kami di panggil satu per satu, untuk mengambil kembali buku itu, dan memeriksa nilai.
Tapi tugas ku di nilai NOL
Murid² lain kesenangan melihat nilai nya, sambil berkata "yeiii dapat seratus"
Aku nanya ke guru
"Pak, kok nilai saya nol, apa yg salah dari jawaban saya?"
Guru menjawab " tidak ada yg salah dengan jawaban kamu. Tapi sikap mu yg salah"
aku : saya salah apa pak?
Guru : itu kan sudah jelas. Kenapa kamu melukai teman sekelas mu ? Itu tidak pantas. .
Aku langsung mikir, pasti dia tidak terima dapat teguran tempo hari. Guru sialan.
Guru : kenapa liat saya begitu ? mau marah ? Silahkan ?
Aku : pak, saya tidak melukai mereka, tidak mencari masalah dengan mereka, kalau mereka tidak mengganggu saya.
Guru : oh, berani membela diri. Maju kamu ke depan. Sekarang!
Aku maju ke depan kelas.
"Sini.. Berdiri di tengah, menghadap ke papan tulis" kata nya padaku
Aku melakukan nya.
Tiba-tiba di memukul betis ku dengan penggaris kayu yg panjang, sampai kaki ku merah.
Aku langsung nangis dan meneriaki nya
"Kenapa bapak mukul saya? Kenapa saya selalu salah ? Kenapa bapak selalu memberi saya nilai yang buruk ? Kenapa ???
Guru : jangan tanya saya, kamu sudah tau jawabannya. Duduk!
Aku tidak ada semangat belajar, rasa nya aku ingin mencakar nya, sampai menembus tulang² nya.
Sepulang sekolah, aku berjalan kaki sendiri. Rumah ku cukup jauh. Kurang lebih 2 jam jalan kaki.
Aku terus berjalan melewati rumah-rumah warga, sampai tak terasa sudah jauh dari rumah warga. Perjalanan ku masih jauh, masih sekitar 1 jam lagi.
Tiba-tiba dari arah belakang, aku mendengar suara yg familir. Mereka ada murid² yang mengganggu ku tadi di kelas.
Mereka berjumlah sekitar 6–7 orang. Semuanya laki-laki.
Tanpa mempedulikan mereka, aku terus jalan, mempercepat langkah.
Tapi mereka lebih cepat dari ku, karena pakai sepeda. Mereka menghadang ku, turun dari sepeda dan mulai mengepung ku.
" heh miskin, berani sekali kamu melukai wajah ku ya, mau ku patahkan batang leher mu ini ? Ha?"
Mereka lalu menarik ku ke tengah jalan, menarik rambut ku, menarik tas ku sampai tali nya putus, membuka paksa mulut ku, memasukukan pasir dan batu kedalam mulut ku, sampai aku muntah darah, karena mulut, lidah, dan tenggorokan luka.
Mereka tertawa lepas dan BAHAGIAAAAA SEKALI.
Tapi mereka tidak puas. Mereka memukul kepala ku, mengoyak tas ku, melempar tas ku ke semak-semak, dan mendorong ku. Setelah puas mereka pergi.
Sungguh! Aku tidak berdaya. Jika saja membunuh bisa di ampuni TUHAN, aku pasti akan melakukan nya.
Dengan wajah babak belur, aku pulang..
Aku melapor lagi ke orangtua. Kali itu bapak langsung mendatangi kepala sekolah. Bapak meminta kepala sekolah, untuk mempertemukan nya dengan guru dan murid² bangsat itu besok pagi.
Besok nya, aku berangkat ke sekolah, pake motor. Bapak masih belajar pake motor. Makanya aku masih terus jalan kaki, karena bapak belum berani boncengin.
Tapi karena kejadian kemarin, untuk pertama kali nya, bapak ngebonceng aku pakai motor ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, bapak langsung menemui kepsek.
Kepsek kemudian memanggil guru dan murid² bangsat itu ke kantor.
Karena kemarahan bapak memuncak, dan hampir menghajar mereka, terutama guru sialan itu, kepsek menenangkan dengan memutuskan, guru itu akan di liburkan dulu untuk tidak ngajar sementara waktu, dan murid² bangsat itu di skors selama 3 hari. Sedangkan aku di perbolehkan untuk istirahat dulu dirumah 3–4 hari.
Setelah semua kekacauan itu, mereka tidak lagi mengganggu ku. Hanya saja, mereka sering menyenggol ku dengan kata-kata "Dasar miskin, apa² ngadu"
Guru di kelas juga bersikap seperti biasa. Dia nampak sekali tidak menyukai ku. Tapi aku tidak peduli. Tujuan datang ke sekolah hanya untuk belajar, dan berusaha mendapatkan nilai bagus. Dia tidak pernah mau memberi ku nilai di atas 80.
Sampai lah kami di hari pembagian raport.
Disitu guru/wali kelas, berulah lagi.
Di raport sudah tertulis "Naik ke kelas 5" tapi di tip-X, dengan Tip-X cair, dan di ganti menjadi "Tidak Naik"
Lagi dan lagi, bapak marah dan protes
"Kenapa raport anak saya di tip-x begini ? Memang nya boleh? Sejak kapan berlaku di sekolah ini ? Ketujuh anak saya, saya sekolah kan disini, tidak pernah sekalipun saya lihat ada raport di rusak begini. Kalau saja ada sekolah lain di kampung ini, saya pastikan, gedung ini jadi abu. Saya akan urus masalah ini ke kantor dinas"
Sehari setelah pembagian raport, bapak datang ke kantor dinas. Tapi ternyata, bapak kalah. Keputusan tetap sesuai yg tertulis di raport
Mau tak mau aku ngulang di kelas 4.
Kali ini, wali kelas 4 sudah beda. Dia seorang guru yg agama. Guru ini baik. Aku sangat menghormati beliau.
Dari situ, aku naik lagi ke kelas 5, dengan wali kelas yg sama.
Naik lagi ke kelas 6. Disini wali kelas kami, adalah kepsek. Beliau juga baik, dan sangat ramah. Dia juga guru yg lucu. Sering kali membuat ruang kelas menjadi rame karena gurauan nya. ..
Aku lulus dengan nilai di atas standar, tapi bukan yg terbaik. Biasa aja.
Aku mau cerita masalah di luar sekolah, sebelum masuk ke masa SMP-SMK.
Beberapa bulan sebelum ujian SD, aku mengalami kesialan yg tidak pernah ada dalam pikiran sebagai anak SD.
Di kampung ku, aku punya kakak sepupu yg baru beberapa bulan menikah.
Kakak sepupu ku nama nya Lini (samaran), suami nya bernama Ganda (Samaran).
Suatu sore, kak lini datang kerumah, ijin dengan kedua orangtua ku, minta aku menemani nya tidur dirumah nya. Katanya suami bermalam di pondok.
Tanpa pikir macam², bapak mamak mengijinkan.
Aku pun ikut dengannya ke rumah.
Malam hari nya, kak lini kedatangan temannya, Mala dan Jelita (samaran).
Di waktu yg sama, suami kak lini juga datang.
"Ada acara apa nih?" tanya suami kak lini
"Kami mau main aja bang" jawab mala
Kak lini lalu mengeluarkan kartu remi.
Mereka ber'empat lalu bermain kartu di sebelah kelambu.
Dari dalam kelambu, aku mendengar mereka ketawa ketiwi.
Mala berkata " yang kalah cubit susu nya ya" sambil tertawa.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar kak lini marah
"Dasar laki-laki buaya, gak usah kegatalan jadi laki" dengan nada tinggi.
Kemudian kak lini mengajak kedua teman nya keluar rumah, nonton ke rumah tetangga katanya.
Aku tidak begitu mengenal suaminya. Bahkan tidak pernah ada percakapan dengan suaminya dari awal kedatanganya ke kampung kami.
Jadi nya aku minta untuk ikut dengan kak lini
"Kak, aku ikut. Aku takut disini sendiri"
Tapi suami kak lini menahan ku.
"Eeh, anak kecil gak boleh keluar malam². Kamu kan udah ngantuk juga. Tidur aja yok. Kan ada abang yg jaga disini" kata menarik tangan ku.
Sebagai anak kecil, aku hanya takut. Tidak pernah terlintas di pikiran ku, akan terjadi hal yg buruk dengan ku.
Akhirnya kami masuk rumah.
"Tidur di kelambu abang aja. Kasian kamu tidur sendiri. Kakak mu pasti lambat pulang nya. Nanti kalau kakak mu sudah datang, abang bangunin" begitu kata nya merayu ku.
Dengan berat hati, aku menurutinya.
Aku masuk kelambu lebih dulu. Sedangkan suami kak lini, duduk di luar kelambu.
Lama kelamaan, aku tertidur.
Tapi tengah malam nya, aku terbangun, karena dada ku sesak, serasa ada yg menindih ku.
Aku kaget melihat wajah suami kak lini, sudah di depan ku. Secara refleks, aku mengangkat lutut ku, yg membuat suami kak lini kaget, dan menjauh dari ku, menarik celana nya. Aku langsung mengangkat kelambu dan menggulingkan diri keluar.
Aku memeriksa tubuh, dan pakaian. Terlihat celana ku sudah turun. Aku langsung nangis, dan mengambil pisau dapur yg ku lihat terselip di dinding.
"Aku mau pulang, buka pintu nya" kata ku sambil menangis dan gemetar.
"Tenang dek, tenang. Aku gak akan apa² kamu"
"Kenapa kau menindih ku?" Tanya ku.
"Aku hanya merapikan celana mu. Tenang lah. Jangan nangis. Aku akan antar kamu pulang, tapi tidak sekarang, orangtua mu sudah tidur jam segini, besok ya" kata nya
"Gak mau! Aku takut. Aku mau pulang sekarang. Sekarang!!!"
"Ok. Tapi buang pisau nya" kata nya
Dia membuka pintu, tapi terlihat sangat waspada.
Aku mendekat ke pintu, dengan pisau masih di tangan. Supaya dia menjauh.
Akhirnya ada kesempatan untuk ku keluar.
Aku langsung berlari keluar. Setelah jauh dari rumah itu, aku baru membuang pisau nya.
Aku berlari, dan nangis sepanjang jalan, sampai ke rumah
"Pak!...mak!!" Kata ku teriak memanggil kedua orangtua ku.
Aku menaiki tangga dengan sangat buru-buru, hingga hampir jatuh
"Loh. Kamu kenapa?" Tanya bapak
"Pak.. suami kak lini membuka celana ku " kata ku sambil nangis. Aku tidak tau bagaimana cara menjelaskan nya. Karena aku tidak tau, apa yg barusan di lakukan suami kak lini.
Bapak langsung mengambil mandau nya, dan turun dari rumah, berjalan keluar, menuju rumah kak lini.
Mamak ku yg mendengar cerita ku, tentu juga sangat marah. Terutama pada kak lini, karena meninggalkan ku.
"Buka pakaian mu, buka. Biar mamak lihat, apa yg sudah di lakukan bajingan itu pada mu" kata mamak
Kemudian mamak berkata lagi
"Bajingan, seperti nya manusia itu minta di tebas kepala nya"
Tak lama kemudian, bapak datang.
"Memang biadab! Aku tidak bertemu dengan bajingan itu. Hanya ada lini di sana. Aku berusaha menahan emosi ku, agar tangan ku tidak mendarat di kepala lini" kata bapak melempar mandau nya.
Ternyata suami lini kabur malam itu juga. Bahkan dia tidak membawa barang² nya. Hanya pakaian di badan.
Besok nya, kabar itu langsung menyebar di desa.
Ketika bertemu dengan ku, mereka menertawakan ku dan berkata
"Gimana rasa nya ? Enak ? Besar gak ?"
Sungguh! Aku hancur sehancur hancur nya.
Aku ingin menangis sekuat-kuat nya, dan menghabisi semua orang yg menertawakan ku.
Yang membuatku lebih kecewa lagi, kak lini dan keluarga, malah menyalahkan ku, bukan nya minta maaf, mereka malah bilang "siapa suruh tidur gak ingat"
Meskipun aku seorang gadis kecil, masih SD, tapi aku tau, perkataan mereka, tidak pantas untuk di ucapkan.
Kejadian yg sama, terulang lagi pada ku, sewaktu aku sudah SMP.
Saat itu aku baru kelas 1 SMP. aku tinggal di rumah dinas, bersama adik, kakak dan suaminya, serta anak mereka yg masih bayi.
Suatu hari, abang ipar kakak ku, (saudara dari abang ipar), datang ke rumah kami.
Dia bersama anak nya, laki-laki, yg berusia sekitar 9-10 tahun, mau numpang nginap semalam dirumah itu.
Kedatangan di sambut baik oleh kakak.
Aku dan adik, juga menawarkan makan dan minum untuk nya.
Malam harinya, aku dan adik tidur diruang tamu, karena hanya satu kamar saja di situ.
Abang ipar kakak dan anaknya, juga tidur di ruang tamu. Kami tidur di satu kelambu.
Di dalam kelambu, aku baru mau tidur. Posisi ku membelakangi abang ipar kakak dan anak nya, dan agak jauh dari mereka. aku dan adik, mepet ke dinding.
Tiba-tiba, tangan abang ipar kakak, menyentuh paha ku, mau menggapai ke area sensitif ku. Aku masih sangat sadar saat itu. Hingga aku memberikan reaksi, dengan pura-pura batuk. Dia langsung menarik tangan nya, lalu membelakangi ku, berpura-pura tidur, meluk anaknya.
Aku langsung membangunkan adik ku, mengajak nya keluar, dengan alasan mau ke WC.
Di WC, aku langsung menceritakan kejadian tadi ke adik. Trus aku bilang
"Kita jangan tidur ya, aku takut. Kita duduk di luar kelambu aja, ini kan udah tengah malam, gak lama kok kita nunggu kakak bangun. Kakak kan bangun subuh"
Untungnya adik ku mau. Padahal dia udah menguap berkali-kali. Karena nahan ngantuk.
Setiap dia mau tumbang, aku selalu memanggilnya,
"Dek.. Jangan tidur"
Kami duduk dekat dapur sampai subuh, sampai kakak bangun.
Begitu kakak bangun, kami langsung menghampirinya.
"Kalian gak tidur ya ?" Tanya kakak
Aku : enggak kak. Kami takut tidur.
Kakak : takut ? Takut apa?
Aku tidak langsung menjawab, karena aku takut, malah kakak dan suami nya yg ribut. Tapi kakak memaksa ku menjawab pertanyaan nya. Akhirnya, aku mengatakan,
Aku : itu kak, abang itu semalam megang paha ku, pas aku mau tidur. Jadi aku langsung bawa adek keluar"
Kakak : trus ? Dia ngapain aja setelah itu?
Aku : dia pura-pura tidur.
Kakak : tapi kamu gak di apa² kan setelah itu ?
Aku : enggak, karena aku langsung bangun.
Kakak diam mendengar cerita ku. Aku tau dia bingung. Karena kalau dia menanyakan langsung ke abang iparnya, pasti tidak akan di jawab jujur. Malah akan menimbulkan masalah untuk kakak dan suaminya. Akhirnya aku bilang ke kakak
"aku gak apa² kak. Aku gak akan cerita ke abang ipar"
Kakak tidak menjawab ku.
Pagi nya, kakak yg menyiap kan sarapan untuk kami. Dia terlihat tidak seperti kemarin memberikan abang iparnya.
Abang iparnya malah bersikap sok akrab dengan aku dan adik, dan berusaha melempar candaan ke kakak. Tapi kakak tidak merespon nya, menoleh ke wajah nya pun tidak.
***
Masih tentang PELECEHAN
Kali ini, aku tinggal bersama kakak kedua, yaitu kak Je dan suami nya.
Waktu itu aku sakit dan suka pingsan.
Dirumah saat itu, ada aku, kak je dan suami nya, juga ada abang ku.
Selesai sarapan pagi, ketika mau berangkat sekolah, aku merasa kepala ku pusing, berat sekali.
Aku hampir tumbang depan pintu kamar ku.
Tapi untungnya langsung di sambut kakak
Kak Je : kamu kenapa dek ?
Aku : gak tau kak, kepala ku sakit, berat sekali.
Kakak : abang!! Tolong adekku dulu. Tolong di angkat ke kamar kita ya, aku mau manggil Uming (abang ku).
*kami 7 bersaudara, dari 1-3 cewek semua, no 4 cowok, namanya uming, no 5-7 cewek juga. Jadi 6 cewek, satu cowok. Aku anak ke 5.*
Lanjut...
Ketika di tinggal kakak pergi, aku belum pingsan, cuma lemes aja, dan penglihatan ku kabur, gak jelas.
Aku bisa merayakan, jika ada yg menyentuh ku.
Ketika di kondisi lemah itu, sesampainya di kamar kak je. Tiba-tiba aku merasakan, ada tangan menyentuh bagian sensitifku.
Beruntung abang ku langsung datang, dan menutup tubuh ku dengan selimut
"E.. Aku panggil paman Acoi dulu, mungkin bisa membantu" kata suami kak je gelagapan gugup, karena mungkin kaget melihat abang ku.
"Kenapa kalian berdua diam aja, bantu ini, dia gimana ? Kita bawa ke RS atau gimana ? Kalau ke RS, kita pinjam mobil paman acoi" kata kakak.
"Kalau ada yg bisa bantu, aku aja yg jaga adik disini, aku tidak percaya orang lain untuk menjaga nya" kata abang.
"Ya udahlah, berarti abang yg panggil paman acoi" kata kak je ke suaminya.
Aku tidak di bawa ke RS, karena kata paman acoi, gak parah.
Entah gimana cara nya mereka menyadarkan ku.
Setelah aku sadar, abang ku bilang
"Dia tidak bisa tidur sendiri. Harus ada yg temenin, tapi bukan laki-laki. Di kampung, istri ku juga sedang tidak sehat, kemungkinan aku akan pulang hari ini ke kampung. Minta tolong, kakak yg jaga, jangan di tinggal sendiri, atau minta orang lain yg jaga, tidak aman untuk adik"
Berlanjut ketika aku sudah SMK.
Masih tentang pelecehan, yg terjadi pada wanita malang ini.
*Kejadian satu di masa SMK*
- kelas 1 : aku ngekost bersama adik ku dewi. (Adik nomor 6, di bawah ku).
Kost-an kami dekat pantai, di depan kost kami ada rumah kakak sepupu ku, nama nya Ida.
Kak ida baik, dan ramah. Dia sering nawarin kami main, nonton, makan, atau tidur di rumah nya.
Suatu hari, adik kak ida, nama nya Marko, dia datang ke rumah kak ida. Tapi saat itu, kak ida belum pulang dari kampus, jadi rumah nya terkunci.
Karena sepupu, tentu aku kenal, dan aku panggil.
"Bang marko, kak ida nya belum pulang. Tunggu di kost-an kami aja, gpp" kata ku
B. Marko : jam berapa dia pulang biasa nya ?
Aku : kalau gak sore, biasa nya datang malam.
B. Marko : lama juga ya. Eeemmm.. Ada makanan gak? Abang lapar"
Aku : cuma ada nasi sih bang,
B. Marko : oo.. Ee, dewi mana? Minta tolong ke dia beliin sayur jadi sama minuman dingin.
Aku : ada di kost sebelah bang. Aku panggil bentar ya. Abang masuk aja dulu, istirahat disini, gpp.
B. Marko : ok..
Aku pergi ke kost sebelah, manggil dewi.
Setelah itu, kami balik ke kost, menemui bg marko.
Dewi : apa bang ?
B. Marko : beliin sayur sama minuman dingin dong. Kan ada nasi disini.
Bang marko ngasi uang 100rb ke dewi, setelah itu dewi berangkat.
B. Marko : eemm.. Dek, paman bibi udah pernah ke kost ini belum ?
Aku : udah bang, sering malah.
B.marko : kamu sama dewi di sini sama siapa?
Aku : bertiga sama kak je.
B.marko : oh, trus kak je nya mana?
Aku : lagi kerja bang.
B.marko : ee,, boleh pinjam HP kamu gak ? Mau nonton.
Aku : boleh sih bang, tapi gak ada video atau tontonan apapun di hp ku. Cuma foto sama musik aja. Nih hp nya
Beberapa menit dia scrol² musik, nyari video, liat² foto, trus di nanya,
B. Marko : gak ada video yg itu ya ?
Aku : video apa bang ?
B.marko : masa gak ngerti sih, yg "begituan" kayak cewek² DJ.
Aku : oh kalau video DJ ada, tapi cuma satu.
B.marko : bukan video DJ, tapi video cewek² "telanjang" gitu.
Aku : ha?? Gak ada bang.
Aku langsung mundur dari posisi duduk, menjauh dari nya.
Tiba-tiba dia narik kaki ku, dan dengan kasar mau membuka celana ku.
Aku melawan sekuat tenaga, mendorong, dan nendang perutnya.
"auuu.... Kuat juga kamu ya" kata nya megang perut nya
Aku gak merespon ucapan nya, aku lari menuju meja kompor, dan ngambil pisau.
"Eittsss... Jangan....jangan..., jangan gitu lah, bercanda aja tadi, maaf..maaf.., ok. Maaf, abang mau pergi dulu, tar balik lagi kalau kak ida udah datang".
Dia pergi mengendarai motor nya, entah pergi kemana.
Aku masih gemetaran, duduk di bawah meja kompor.
- Ketika Mau Mandi
Sehari setelah kejadian di kost-an, aku dan teman² numpang mandi di rumah kak ida. Teman² yg lain, sudah lebih dulu mandi.
Aku : kalian jangan ke kost dulu ya. Tunggu aku disini, awas kalau kalian duluan"
Aku pun masuk ke kamar mandi.
Ketika mau tutup pintu, tiba-tiba bg marko memeluk ku dari belakang, refleks aku memukul kelapa nya dengan gayung, sampai gayung pecah. Dia pun keluar.
Akhirnya aku gak jadi mandi, aku langsung lari nyusul teman² di luar.
***
DI MUSIM KEMARAU
Waktu itu aku pulang kampung, di sana sedang musim kemarau. Jadi kalau mandi harus ke hutan, melewati perkebunan sawit.
Siang hari, aku dan adik bungsu mandi ke sungai, dengan membawa 1 ember cucian piring kotor.
Bungsu mandi lebih dulu, sedangkan aku nyuci piring. Selesai nyuci, aku langsung mandi. Ketika aku dan bungsu baru saja selesai mandi, marko datang dengan teman nya pake motor.
"Mandi dek?" Kata nya
"Ya" jawab ku
Lalu marko turun ke sungai, berenang ke arah ku. Tiba dia berdiri di belakang ku, dan mau membuka paksa kemban ku. Aku berusaha melepaskan tangan nya yg menyekik leher ku. Tapi tenaga ku tidak kuat untuk melepaskan nya.
Dia lalu menenggelamkan ku. Di dalam air, tubuh ku ringan, tapi cengkraman tangannya terlalu kuat memegang batang leher ku.
Aku meraba pasir dan bebatuan dari dalam air, lalu melempar pasir dari dalam air sebisa ku. Puji Tuhan, pasir mengenai mata nya dan membuat nya melepaskan leher ku, aku langsung berenang ke tepian sungai, masih melempar nya dengan lumpur dan potongan² kayu yg aku temukan.
Untungnya temannya tidak ikut melakukan hal itu pada ku. Aku justru mengkhawatirkan adik ku, takut di jadi alat untuk menakuti ku. Tapi adik ku gesit, dia langsung menyimpan ember dan alat mandi ke motor.
"Ayo lari kak" kata nya sembunyi di balik pohon sawit dekat motor.
Aku lari menghampirinya, lupa dengan sandal. Jadi nya nyeker sampai rumah.
Sesampainya di rumah, aku langsung cerita ke abang dan orangtua ku.
Sebenarnya kami ingin melaporkan hal itu ke pihak kepolisian, karena itu yg ketiga kali nya dia mau memperkosa ku. Tapi karena kami tidak ada bukti, jadinya gak bisa ngelapor. Akhirnya di diamkan sampai saat ini.
***
kejadian di sekolah.
Ini terjadi pada ku di sekolah, tepatnya di kelas yg kosong.
Aku ganti baju di ruang kelas itu, tapi gak buka baju lalu telanjang, aku hanya buka kaos olahraga, dengan masih menyisakan kaos dalam lengan pendek.
Tiba-tiba, ada beberapa murid cowok, yg sekelas dengan ku, masuk ke ruangan tempat ku.
Dua di antara mereka, langsung menarik ku, dan mendorong ku ke meja, yg lain membuka mengangkat kaos ku.
Aku hanya bisa mengandalkan kaki ku yg punya space untuk menendang, dengan sangat sengaja dan penuh tenaga, aku menendang satu di antara mereka, yg sudah memeluk tubuh ku. Aku menendang, pas di bagian vitalnya. Sampai membuatnya hampir pingsan.
"Mampus...!!! Keluar kalian, atau aku lempar dengan kursi² disini, keluarrrrrrr!!!" Ucap ku sambil mengangkat kursi di dekat ku.
Mereka langsung lari terbirit-birit.
- GURU AGAMA
masih di sekolah. Kali ini, seorang guru agama, yg berpapasan dengan ku di lapangan basket, menarik tangan ku, di bawa masuk ke ruang kelas yg kosong.
"Loh..pak..pak.. Ada apa ni pak?" Tanya ku
"Sudah, ikut saja"
Di dalam ruangan itu, dia mendorong ku meja, dan langsung membuka kancing baju ku.
"Ihh.. Apa²an ini pak, lepas kan aku...lepaskan" aku mendorong badan nya, tapi tidak bergeming, karena tubuh nya gemuk.
Lagi dan lagi, aku menendang dan tangan ku berhasil mendarat di pelipisnya.
"Ok..ok.. Saya lepaskan, maaf kan saya.. Maafkan. Tapi tolong, jangan beritahu siapa pun, tolong, aku akan memberi mu nilai tinggi, tanpa harus mengerjakan tugas apapun dari ku. Tolong jangan katakan hal ini ke pihak sekolah, atau yg lain nya" kata merapikan kerah kancing nya
"Bapak sudah gila! ha?, sangat menjijikan!!!" Kata ku mendorongnya, dan keluar dari ruangan itu.
-kejadian berikutnya, masih di sekolah.
Saat itu bukan pelajaran agama. Tapi guru agama memanggil ku, dengan alasan, minta tolong pada ku, untuk ngecek tugas anak² kemarin di ruang komputer.
Ruang komputer ada di lantai atas.
Aku naik dengan sangat hati-hati ke lantai atas. Tiba-tiba guru agama itu menarik tangan ku dan memaksa ku ikut dengannya ke lantai atas.
Aku melawan, dengan sengaja menahan kaki ku di bagian tangga, supaya dia tidak bisa menarik ku, aku sengaja tidak teriak, karena dia guru yg sangat di percaya di sekolah, dengan kedok nya sebagai guru agama, padahal kemampuan agamanya, setara dengan orang² yg jarang ke gereja.
Dia sempat berhasil menarik ku untuk naik. Tapi untungnya, ternyata ada murid² jurusan komputer, yg keluar dari ruang komputer, bersama guru komputer nya.
Guru agama tadi langsung melepaskan tangan ku, dan aku masuk dalam barisan murid² jurusan komputer.
Karena kejadian itu, guru agama tadi memfitnah ku di sekolah, dengan menyebarkan berita, bahwa aku "Lonte", bayar sekolah dari hasil jual diri.
Satu sekolah percaya dengan berita itu.
Bahkan aku sampai di kucilkan oleh murid² di sekolah.
Setiap kali bertemu ku, mereka selalu berkata " duhhh,, bau sperma nya kuat banget. Harus nya kamu gak disini, tapi ngangkang sama om² di hotel sana"
Tidak hanya itu, semenjak aku sakit sewaktu SMP, aku tidak kepanasan, atau kedinginan, jadinya sering lemes di sekolah.
Itu membuat ku selalu di panggil guru BP. Saat itu, guru BP di sekolah adalah seorang Suster, dari yayasan. Ya, sekolah ku ini milik yayasan.
Aku di panggil, dan di paksa mengaku. Bahkan aku di fitnah, positif HIV, Hamil, Sudah Melahirkan, Pelakor, dan lain-lain.
Tidak hanya itu, aku di bawa paksa ke pastoran oleh guru BP (suster).
Disana suster berkata "Romo (penyebutan untuk pasto) tolong doa kan anak ini. Dia melakukan kesalahan besar dan sangat tidak pantas menjadi murid di yayasan kita ini"
Romo : baik, bawa masuk ke ruangan saya"
Aku di tarik, di bawa masuk ke ruangan pastor.
"Suster boleh keluar, biar saya bicara dengan anak ini"
Setelah suster keluar, aku ditanya.
Romo : apa benar kamu yg malam minggu kemarin di angkut satpop PP, kepergok sedang bermesra dengan seorang laki-laki yg berstatus suami orang?"
Aku : tidak romo. Itu bukan saya
Romo : kenapa kamu tidak mau mengakuinya?
Aku : karena saya tidak melakukannya.
Romo : dengar, kamu sekarang berada di ruangan saya. Kamu bisa mengakui semua nya, saya kan membantu dengan mendoakan mu.
Aku : terimakasih romo. Tapi wanita itu bukan saya, dan saya tidak melakukan nya.
Romo : apa kamu berani bersumpah di hadapan kitab suci?
Aku : saya berani
Romo : baik lah kalau begitu. Kamu pasti sudah tau, bahwa TUHAN akan menghukum mu, jika kamu berbohong. Apalagi di hadapan kitab suci. Itu artinya kamu menantang TUHAN.
Aku : saya tau romo. Saya siap bersumpah, saya siap menerima hukuman apapun jika itu dari TUHAN, tapi jika hukuman yg di berikan untuk saya datang dari manusia, maaf romo, saya akan melawan"
Romo : baik. Kalau begitu, kamu sujud di bawah kitab suci ini, dan di hadapan mu ini, ada baskom berisi air kudus, saya kan berdoa, dan memperciki kamu dengan air suci ini.
Aku : iya romo.
Aku lalu sujud, menghadap ke patung YESUS, diatas kepala ku ada kitab suci, di hadapan ku ada air suci. Aku mengepalkan tangan. Sambil di perciki dengan air suci, dalam hati ku berkata kepada TUHAN
"YA TUHAN, ENGKAU TAU APA YG SEBENARNYA TERJADI, MAKA AKU MOHON, TUNJUKKAN LAH KEBENARAN DARI SEMUA INI. AKU MOHON AMPUN BUKAN UNTUK KESALAHAN YG DI TUDUHKAN KEPADA KU, TAPI UNTUK DOSA KU YANG MEMANG PERNAH KU LAKUKAN SELAMA HIDUP, SELAMA INI, JIKA AKU SALAH, MAKA HUKUMLAH AKU, TAPI JIKA AKU BENAR, MOHON BERKATI LAH AKU. AMIN"
setelah itu, Aku disuruh keluar dan pulang.
Setelah kejadian itu, aku keluarkan dari sekolah, dalam keadaan ku yg saat itu sedang sakit dan baru keluar dari RS. Dengan ditemani bapak, aku datang ke sekolah untuk mengambil data² ku di sekolah. Di sana bapak sempat meneteskan air mata, dan memohon untuk aku di ijinkan tetap berada di sekolah, sampai ujian nanti, karena hanya tersisa satu bulan.
Pihak sekolah tidak dapat menerima permintaan bapak. Mereka juga bilang, bahwa aku absen selama 14 hari, sakit selama 13 hari, jadi tidak dapat di toleransi, bahkan masuk daftar hitam.
Aku kaget mendengar kata "absen 14 hari" karena aku selalu hadir di sekolah saat itu, tapi karena setiap hari di panggil ke ruang BP, jadinya gak ikut pelajaran apapun sampai selesai.
Tapi aku tidak bisa memberikan keterangan apapun di sekolah, meski ada bapak. Aku takut bapak justru di tertawakan.
Aku sampai tidak bisa menangis saat itu.
Aku tidak menceritakan semua yg terjadi ke orangtua, karena mereka sudah mendengar berita yg palsu dari pihak sekolah, tanpa sepengetahuan ku.
Jadinya orangtua marah besar pada ku.
Tapi tetap, sebagai orangtua, masalah anak, pasti beban orangtua.
Mereka lalu mendaftarkan ku untuk ujian paket C, dengan biaya 3jt dari hasil pinjaman dari CU.
Selesai pembayaran gono gini, aku ikut ujian paket C, dan lulus di tahun 2017, dengan nilai rata-rata 8.07, nilai ujian kesetaraan, 8.15
Sebelum mendapat ijazah paket C, aku bekerja di salon, tapi di tipu bos salon. Dia memberiku uang setiap dari 50-100rb, kata nya uang makan, udan bensin dan lain-lain. Ketika tanggal gajian, dia bilang gaji ku sisa 90rb, karena di potong dari uang yg sering di kasi ke aku.
Dia juga memecat ku, dengan alasan, aku belum bisa kerja.
Ok...
Masih malang melintang di kota, aku melamar kerja di sebuah tempat karaoke. Aku langsung di terima. Hari pertama kerja, aku masuk sift malam.
Hari kedua, aku masuk sift siang sampai jam 7.30 malam.
Sehari sebelum gajian, ada pengunjung yg datang, dia meminta waktu 2 jam, baru belas menit berjalan, dia keluar ruangan, menghampiri ku meja kasir, dan berkata "tambah 2 jam lagi ya dek, karena ada teman saya di luar, mau masuk".
"Ok bang"
Aku menambahkan waktu 2 jam di komputer.
Satu jam kemudian, mereka keluar lagi dari ruangan, trus nanya
"Berapa dek?"
Aku : 490rb bang.
Tamu : ha ?? 490? Ah yg benar aja, saya kan cuma satu jam. Bukan nya 1 jam cuma 83rb?
Aku : ya benar bang. Tapi abang tau disini, minimal 2 jam, trus abang tadi nambah 2 jam lagi, trus di tambah makanan dan minuman nya. Jadi 490rb. Itu sudah otomatis di total kan, dan terhitung di komputer begitu bang.
Office : iya benar bang, memang begitu hitungan nya. Abang kan langganan disini, dan sudah tau aturan nya.
Tamu : enggak. Saya gak mau bayar segitu, saya ada uang 200rb-an, kalau mau saya bayar, kalau gak, ya sudah, pokoknya saya bayar 200rb.
Aku : oh, itu artinya abang bukan gak tau total nya berapa, dan aturan nya gimana, itu alasan abang aja, biar bisa bayar dengan uang yg ada. Begini bang ya. Makan dan minum nya gak gratis, karaoke nya juga gak gratis, abang kalau mau yg gratis, numpang parkir aja, jangan masuk, apalagi karaoke.
Tamu : mana manager nya, saya mau bicara, perhitungan macam apa kayak gitu.
Kami pun menelfon manager meminta nya datang.
Setelah manager datang, aku ceritakan duduk permasalahan nya. Tapi manager malah menyalahkan aku, dan menerima uang 200rb dari tamu
Manager : sini kamu, masuk ke ruangan saya.
Aku langsung masuk bersamaan dengan manager nya.
Manager : kenapa kamu bicara seperti itu pada tamu?
Aku : saya kan sudah jelaskan pak masalah nya apa. Orang itu bukan gak tau totalnya berapa, tapi emang karena gak ada uang.
Manager : mana buktinya kalau kamu sudah kerja sesuai aturan disini.
Aku : bapak liat aja cctv nya, atau bapak cek aja di komputer saya. Kan sudah otomatis tercatat di situ.
Pak manager lalu melihat layar cctv, dan ngecek komputer. Tapi, cctv langsung di matikan di detik ketika aku mulai berdebat dengan tamu. Gak di liat sama sekali sama dia.
Trus dia marah ke aku, dengan mengatakan
"Dasar anak kampung. Begini nih, kalau sudah bodoh dari turunan. Orangtua nya bodoh, anak nya juga ikutan bodoh" kata nya sambil main pulpen di tangan.
Wah... Mendengar ucapan nya mengatakan orangtua ku bodoh, bangkit setan ku.
Aku langsung merampas pulpen dari tangannya, ku tusukan di meja, tepat di depan nya, dengan aku mengatakan
"Dasar Babi! Heh, bapak tidak kenal orangtua saya, jadi jangan berani² mengatakan orangtua saya bodoh. Bapak yg bodoh. Semua yg ada di komputer itu sudah di setting seperti itu sebelum saya bekerja disini, bapak lebih bodoh dari keluarga saya, karena apa ? Karena bapak memanfaatkan semua karyawan, dengan potong gaji setiap bulan, dengan alasan tidak pernah mencapai target, padahal itu semua cara bapak menghindar dari bos, karena lebih dari 100jt yg tidak bisa bapak ganti ke bos. Bapak juga selalu kasi hutang ke teman² bapak yg datang ke sini. Menyediakan jasa pelacur untuk memuaskan orang² seperti bapak ini. Memalukan!!"
Setelah itu aku keluar dan memutuskan tidak kembali lagi ke tempat terkutuk itu.
Besok nya, karyawan di situ gajian, aku menemui bu Sita, yaitu orang kepercayaan bos, untuk mengambil Akta kelahiran yg asli, yg aku antar sewaktu melamar disitu.
Setelah bertemu bu sita. Bu sita bilang
"Maaf ya, gaji kamu cuma 150 rb. Sudah ibu selipkan di MAP akta. Kalau seandainya semalam kamu tidak keluar, gaji kamu ada 1.500.000, sebagai karyawan baru. Tapi kamu kerja cuma selama 29hari, sedangkan disini, minimal kerja 30hari"
Aku : oh gitu ya buk, ambil aja 150rb nya buk. Saya masih bisa makan tanpa harus membawa uang belas kasihan. Atau titip uang itu untuk nambah uang jajan manager kami kemarin. Kayaknya beliau lebih membutuhkan. Permisi"
Ya... Untuk kedua kalinya aku harus kerja bakti lagi.
Kemudian aku melamar kerja di market. Dan di terima.
Hari pertama sampai hari ke 10, masih baik-baik aja, meskipun bos cerewet.
Masuk di hari ke 11. Aku di panggil bos. seorang karyawan bagian pajangan, nama nya Tika, di suruh mengarahkan ku di bagian pajangan² yg barang nya baru datang.
Bos lalu bilang, "tika, kamu bagian tisu, nanti Mia bagian sabun. Tolong di arahkan". Setelah mengatakan itu, bos pergi.
Tika mulai nunjuk² bagaimana pajangan nya, dan dimana posisi² barang tersebut.
Aku memajang sabun di rak pajangan khusus sabun. Lumayan lama.
Ketika aku baru selesai, bos datang lagi. Dia memeriksa pekerjaan yg tadi sudah di sebutkan nya.
Tapi bos langsung marah dan melempar kardus kosong kearah ku, karena tisu² belum setengah di kerjakan.
" Mia !!! Mana tika?" Tanya bos.
Tika langsung berlari dari pojok pajangan lain, menghampiri bos.
" saya Ce" kata tika.
Bos : ini kenapa belum selesai ?ha?ngapain aja dari tadi? Kalian di bayar untuk bekerja, bukan untuk santai"
Tika : ee maaf ce. Tadi saya bantu teman² yg lain dulu, trus saya minta tolong mia untuk selesaikan ini. Tapi dia gak mau, dia malah bilang, kalau aku gak pantas merintah dia, karena aku bukan bos"
Bos langsung marah pada ku, dan memanggil ku ke ruangannya.
Feeling ku tidak enak. Aku tau pasti ku yg di salahkan. Karena aku karyawan baru.
Di dalam ruangan itu, bos di temani anak, dan suaminya.
Mereka marah² pada ku, dan berkata " ambil gaji mu di tong sampah sana, dasar orang kampung, tidak berpendidikan, malas lagi" suami dan anak nya juga makin ngomporin si mulut jabir itu sampai dia melempar amplop gaji ku ke lantai.
"Tuh! Ambil gaji mu di lantai, begitu lebih pantas, keluar dari sini. Saya tidak butuh tenaga kamu disini"
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku pun keluar.
Di luar, teman² yg lain langsung memeluk ku, sok simpati mengatakan " sabar ya mi"
Aku langsung keluar dari area itu, pulang ke rumah kakak.
Disana ada orangtua ku. Aku menceritakan kejadian barusan.
Lalu bapak bilang "pulang kampung aja dulu, disana kan ada perusahaan sawit, mungkin abang mu bisa bantu carikan peluang supaya kamu bisa diterima di sana".
Karena sudah lelah dengan semua itu... Aku langsung mengiyakan, akhirnya aku pulang kampung hari itu juga.
Di kampung, aku berjualan kue ketika ada acara atau perlombaan.
Tapi orang sekampung selalu melihat ku dengan tatapan penuh cacian dan makian.
Mereka selalu bilang
" ini kue khusus laki-laki. Kayaknya gak jualan kue deh, kue nya sih laku, tapi karena yg jual nya bebas pake, alias pelacur, ibu jual anak ya buk"
Ya Tuhan.... Aku hampir gila dengan semua masalah ini. Apalagi yg harus ku lakukan untuk keluarga ku.
Kasian mereka harus malu di mata semua orang.
Setelah beberapa minggu memaksakan diri untuk terus jualan, akhirnya aku nyerah.
Bahkan ketika aku ke gereja, ibu² disana berkata "awas...awas... Biarkan cewek cafe lewat, dia mau tobat"
Mamak ku tidak mampu menahan emosi nya, dan memutuskan pulang.
Dirumah kami ada warung kecil, tapi pembelinya hanya laki-laki. Bahkan mereka pernah berantem di halaman rumah kami, gara² kelompok satu minta di temanin nyantai aku tolak, trus kelompok dua ngomporin, jadi nya baku hantam.
Karena kejadian itu, tetangga makin menjadi-jadi, mengatakan aku perebut laki orang, lonte, murahan...aahhhh, intinya aku kotoran ternajis yg ada di muka bumi ini.
Aku masih bertahan di kampung dalam waktu yg lama.
Aku bekerja sebagai karyawan lepas di perusahaan sawit, dengan gaji harian.
Paling tinggi gaji ku 900rb. Tapi lumayan, bisa ku tabung sampai 3jt, untuk nambah modal jualan mamak.
Setelah 5 bulan di kampung, terjadi lagi hal yg membingungkan ku, yg datang dari tetangga, sampai orangtua mengasingkan aku kota lagi.
Kejadian nya begini. Suatu hari ada beberapa orang mabuk datang kerumah kami. Mereka datang dengan tujuan mau melamar ku.
Mendengar hal itu, bapak langsung mengusir mereka dengan kata-kata kasar, karena sudah cukup sabar, dan diam dengan berita dan cara orang² disana dengan kami.
Selama aku di kampung, setiap malam, laki-laki disana nyantai di warung di rumah kami, sampai tengah malam, bahkan tidak membiarkan kami tidur dengan tenang. Kadang mereka datang membawa BIR yg di beli di warung lain, dan di minum sampai habis di rumah kami. Kami sudah pernah mengusir mereka dengan halus, tapi itu malah membuat mereka mengacaukan semua nya.
Kakak ketiga ( kak je) lalu mengusulkan, "pak, mia biarkan nyari kerjaan di kota aja lagi. Nanti aku bantu carikan.
Melihat kekacauan dan ketidaknyamanan ku di kampung, orangtua mengijinkan.
Akhirnya aku kembali ke kota lagi.
Disana, aku bekerja di sebuah market lagi, dan bertemu jemi. Dia bekerja di toko itu sebagai office, bagian input barang.
Setelah 6 bulan bekerja, jemi melamar ku, pada tahun 2018 kami tunangan. Tunangan selama 3 tahun, karena jemi gak mau pake uang orangtua, dia kerja serabutan untuk ngumpulin uang, lalu pada tahun 2021 kami menikah di gereja di kampung.
Seperti sebelumnya, orang² di kampung menggosipkan aku hamil di luar nikah. Padahal sudah satu tahun menikah kami belum di karuniai anak.
*ADA CERITA SURAM SEBELUM AKU MENGENAL SUAMI KU*
Selama 2 tahun, aku menggembel di jalan.
- Aku selalu di usir adikku dengan alasan yg tidak jelas.
-aku tinggal dengan kakak kedua selama beberapa hari, aku harus keluar dari rumah mereka, karena salah paham. Kakak sempat marah, salah paham, ketika aku mengganti celana ku pada tengah malam. Karena dia lihat suami nya tidak pakai baju. Hingga akhirnya dia pergi dengan jalan kaki, kerumah kakak pertama (kak noy). Padahal aku ganti celana, karena mens.
Dan suaminya memang tidak pernah pakai baju kalau di rumah. Tapi saat itu, suami nya sedang nonton tv di ruang tamu, sedangkan tempat tidur ku, juga diruang tamu. Jadi wajar jika dia salah paham.
Tapi tanpa bertanya pada ku, atau suami nya, kakak diam² menghubungi orangtua kami, dan meminta ku pergi dari rumah mereka. Terpaksa aku ngekost lagi.
- ketika aku sudah di usir dari kost, ketika di minta keluar dari rumah, aku datang ke rumah kakak pertama, kak noy.
Disana aku di beri sepiring, nasi. Baru saja aku mengangkat piring, aku langsung mendapat perkataan tidak mengenakkan, dari abang ipar "kau, datang ke sini makan, datang² langsung makan"
Padahal baru kali itu, aku datang dan minta makanan, bahkan saat itu, aku mau numpang tidur semalam saja, aku mendengar suami kak noy berkata "biarkan saja dia hidup di jalanan"
Baiklah! Aku langsung pergi.
Kalian tau apa yg ku lakukan di jalanan selama 2 tahun itu ? Ya, aku harus makan, aku harus punya tempat tinggal. Tapi semua itu tidak bisa di sulap begitu saja.
Aku harus punya uang. Tanpa niat, dengan sangat terpaksa, aku jual diri. Untuk mendapatkan rupiah.
Selama jadi wanita panggilan, aku selalu menangis menahan jijik, dan mengingat wajah kedua orangtua ku, juga abang ku.
Sampai akhirnya, muncul pikiran, mengakhiri semua itu, dengan jalan pintas, yaitu bunuh diri.
Di detik ketika aku mau melompat ke sungai kapuas, isi kepala ku semuanya memutar dengan sangat cepat, dan seperti menampar ku, dengan tatapan mamak, bapak dan abang ku.
Aku langsung mundur dari tepian sungai, dan terduduk.
"YA TUHAN.. ampuni aku, aku terlalu kotor, aku sangat pantas menjadi bagian dari MU TUHAN, Ampuni aku TUHAN. Apa arti dari semua ini untuk ku ? Sudah banyak waktu aku lalui dengan semampu ku. Fitnah, Bully, hinaan, apa lagi yg kurang TUHAN? apa ENGKAU memberi ku kesempatan untuk memperbaiki diri ? Jika Ia, aku hanya ingin menutupi semua buruk ku, dari ketiga orang yg terus membayangi ku TUHAN. mereka bagian terpenting dalam hidupku. Dan jika aku di ijinkan melakukan hal lain dalam hidup ku, mohon TUHAN satukan aku dengan orang yang tidak peduli dengan buruk nya aku"
Seiring berjalan nya waktu, aku di pertemukan dengan JEMI. Dia lahir dari keluarga yg tidak kalah kacau nya. Tapi mungkin karena dia laki-laki, dia tidak jual diri, atau membeli jasa dari wanita seperti ku.
Dia di besarkan oleh bibi nya. Tapi ketika SMA, di juga korban bully. Dia juga pernah, hampir di lecehkan bos nya yg laki-laki. Akhirnya dia berhenti, dan bekerja di market. Di sanalah kami bertemu.
Banyak laki-laki yg mengatakan hal ini pada ku
"Jangan lah kerja seperti itu, kasian dirimu, cari lah kerja yg halal" tapi hanya kata-kata, tidak membantu sama sekali.
Sekalipun aku tidak pernah bersyukur dengan apa yg aku dapatkan dari hasil kotor itu. Bahkan aku benci, dan jijik dengan diri ku sendiri. Aku sampai ingin membakar semua pakaian ku, setiap kali aku melihat pakaian² yg pernah aku pakai sewaktu jadi setan di jalan.
Setelah bertemu jemi, dan bekerja di satu toko yg sama, aku datang lagi ke gereja. Memohon berkati TUHAN, dan berserah diri seutuhnya kepada sang pencipta.
Di dalam gereja, ada satu pastor yg berkata "ada seorang gadis yg dulu pernah di bawa menghadap kami. Dia melakukan kesalahan besar yg jauh dari ajaran gereja, dia dulu jurusan akuntasi, sudah kelas 3, tapi gugur, dan tidak jelas tujuan hidupnya"
Mata nya menatap ku. Dan aku tau, akulah orang yg di maksudnya.
Orang² yg ada dalam gereja saling pandang, seperti saling tanya "siap ya?"
Banyak yg satu sekolah dengan ku, juga ada di dalam gereja tersebut.
Mereka sudah jelas tau, siapa yg di maksud.
Tapi meskipun begitu, aku tetap yakin dan percaya dengan TUHAN ku, bukan orang² yg satu keyakinan dengan ku, meskipun dia seorang pemimpin.
Dari awal aku tidak pernah meninggalkan TUHAN. Aku tau aku salah, aku tau aku berdosa, aku tau aku najis, tapi aku ingin tetap hidup, sampai waktu yg di tentukan oleh TUHAN.
Aku melengkapi semua kebutuhan hidup manusia normal dengan cara ku.
Aku membeli pakaian, karena pakaian ku di buang adikku. Sisa yg ada hanya satu keranjang, itu pun basah. Bisa di cuci kok. Iya aku tau, tapi perlu deterjen, atau paling gak pake sabun batang, trus sikat, baru air. Jangan mikir beli sabun batang, makan dan tempat tinggal saja aku tidak ada. Akhirnya lagi dan lagi, kembali ke dosa ku, yaitu wanita panggilan.
Begitu juga dengan alas tidur. Aku sudah ada uang untuk sewa kost-an, tapi tidak ada alas tidur, alat masak, makanan dan lainnya. Balik lagi, aku harus keluar malam² mencari rupiah.
Setelah semua itu ku dapatkan. Aku masih harus bekerja malam hari sampai subuh, untuk membantu kedua orangtua ku menyekolahkan adik bungsu.
Karena saudara yg lain, semua nya sudah berkeluarga.
Setiap malam aku harus meninggalkan adikku yg tidur pulas, untuk mencari uang. Aku sudah menetapkan dalam hati ku
"Aku tidak akan membiarkan adik ku kelaparan, kedinginan di bawah hujan, kepanasan di bawah terik matahari. Aku sanggup, kalau pun harus mati di tempat. Karena itu lah mau ku, jika nasib baik tidak berpihak pada ku".
Kehadiran jemi, mengembalikan ku ke tujuan hidup manusia normal.
Dia tau apa pekerjaan ku sebelum dekat dengan nya. Dia menceritakan nya ketika kami sudah bertunangan.
Sebelum menikah, kami menemui pastor, atau di sebut kanonik untuk persiapan pernikahan secara Gereja.
Saat kanonik ada banyak pertanyaan. Paling utama adalah hubungan.
Pastor juga mengatakan, jangan ada rahasia. Karena akan menjadi bumerang dalam hubungan rumah tangga. Aku menceritakan semua nya. Tidak satu pun aku tutupi dari pastor dan suami ku, jemi.
Mendengar cerita ku yg bisa menjadi faktor utama kehancuran dalam rumah tangga, pastor bertanya lagi ke jemi
" apakah kamu akan tetap menerima dia, dan melanjutkan ke pernikahan?"
Jemi menjawab "iya, saya akan tetap menerima apa pun kekurangan nya, dan tetap melanjutkan ke pernikahan"
Disini aku juga ingin menyampaikan terimakasih, untuk sahabat Kristi yg selalu menemani ku selama hidup di jalanan, bahkan menemani ku tidur di emperan jalan, sampai di bangunin tukang sapu jalanan.
Karena kesetiaan nya, aku rela menyerahkan diri ku untuk memuaskan nafsu mereka yg sengaja mencari pemuas rasa dari wanita berdosa seperti ku, supaya mendapatkan rupiah, untuk membawa sahabat ku berobat.
semua orang punya masa lalu.Tidak semua masa lalu, patut di ceritakan, meskipun pada keluarga sekalipun. Banyak hal yg perlu di pertimbangkan sebelum cerita. Yg terpenting, jangan meninggalkan Tuhan mu.
*jangan disebarkan di luar quora*